Makalah Etika Pergaulan dalam Islam

  MAKALAH PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

ETIKA PERGAULAN DALAM ISLAM

Dosen Pengampu: Agung Kuswantoro, S.Pd., M.Pd.


 



Disusun Oleh:

Hilwa Amelia Putri

7211422284


JURUSAN AKUNTANSI

FAKULTAS EKONOMIKA DAN BISNIS

UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG

2023




KATA PENGANTAR


Puji syukur saya panjatkan atas ke hadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat serta hidayah-Nya, sehingga saya dapat menyelesaikan makalah ini dengan judul “Etika Pergaulan dalam Islam”. Adapun tujuan penulisan makalah ini ialah sebagai tugas akhir Mata Kuliah Umum Pendidikan Agama Islam. Selain itu, makalah ini dibuat untuk memberikan pemahaman terutama kepada remaja saat ini mengenai etika pergaulan dalam Islam. 

Saya selaku penulis makalah ini mengucapkan banyak terima kasih kepada Bapak Agung Kuswantoro, S.Pd., M.Pd. selaku dosen pengampu mata kuliah Pendidikan Agama Islam yang telah memberikan tugas ini sehingga dapat menambah wawasan mengenai materi Pergaulan dalam Islam. Saya juga mengucapkan terima kasih kepada para pihak yang telah membantu dalam penyelesaian makalah ini. Saya menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kata sempurna. Oleh karena itu, saya sangat terbuka terhadap saran dan kritikan yang membangun untuk mengembangkan makalah ini ke depannya. 



Semarang, 31 Mei 2023




  Penulis                            





DAFTAR ISI


KATA PENGANTAR ....................................................................................................................................................... 2

DAFTAR ISI .................................................................................................................................................................. 3

BAB I PENDAHULUAN ................................................................................................................................................... 4

1.1 Latar Belakang .......................................................................................................................................................................4

1.2 Rumusan Masalah ............................................................................................................................................................... 4

1.3 Tujuan ..................................................................................................................................................................................... 4

1.4 Manfaat ............................................................................................................................................................................. 4

BAB II PEMBAHASAN ................................................................................................................................................... 5

2.1 Etika Bergaul dengan Lawan Jenis ............................................................................................................................ 5

2.1.1 Adab Bergaul dengan Lawan Jenis ............................................................................................................................... 5

2.2 Etika Bergaul dengan Teman yang Lebih Muda .......................................................................................................... 7

2.2.1 Adab Bergaul dengan Teman yang Lebih Muda ............................................................................................................... 7

2.3 Etika Bergaul dengan Teman Sebaya dan yang Lebih Tua ............................................................................................... 8

2.3.1 Adab Bergaul dengan Teman Sebaya dan yang Lebih Tua ............................................................................................. 8

BAB III PENUTUP ....................................................................................................................................................... 11

3.1 Kesimpulan ........................................................................................................................................................................... 11

3.2 Saran ...................................................................................................................................................................................... 11

DAFTAR PUSTAKA ..................................................................................................................................................... 12




BAB I

PENDAHULUAN


1.1 Latar Belakang

Sebagai seorang remaja muslim ataupun muslimah, nilai-nilai Islam harus selalu kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari, termasuk dalam pergaulan. Diperlukan etika dalam bergaul, baik itu dengan lawan jenis, dengan teman yang lebih muda, sebaya, maupun dengan teman yang lebih tua. 

Etika dalam bergaul telah diatur dalam Islam agar hubungan pertemanan dapat selalu berjalan dengan baik dan senantiasa berada di jalan Allah SWT. Maka dari itu, makalah ini akan membahas mengenai hal-hal yang perlu dilakukan dan tidak boleh dilakukan dalam bergaul.

1.2 Rumusan Masalah

1. Bagaimana etika dalam bergaul dengan lawan jenis?

2. Bagaimana etika dalam bergaul dengan teman yang lebih muda?

3. Bagaimana etika dalam bergaul dengan teman sebaya dan yang lebih tua?

1.3 Tujuan

1. Mengetahui etika dalam bergaul dengan lawan jenis.

2. Mengetahui etika dalam bergaul dengan teman yang lebih muda 

3. Mengetahui etika dalam bergaul dengan teman sebaya dan yang lebih tua.

1.4 Manfaat

Dapat memberikan pengetahuan kepada remaja mengenai etika bergaul, terutama dengan lawan jenis karena banyak hal-hal yang telah dilarang dalam Islam namun mulai dinormalisasi oleh mereka.




BAB II 

PEMBAHASAN


2.1 Etika Bergaul dengan Lawan Jenis

Di dalam Islam, bergaul dengan lawan jenis tidaklah dilarang. Namun, harus ada etika dalam pergaulan tersebut agar tetap sesuai dengan syariat Islam. Dalam surat Al-Hujurat ayat 13, Allah menciptakan manusia dari laki-laki dan perempuan untuk saling mengenal, sehingga akan tetap ada pergaulan di antara keduanya karena manusia merupakan makhluk sosial. 

 


Artinya: "Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling takwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.”

2.1.1 Adab Bergaul dengan Lawan Jenis

1. Berteman karena Allah SWT

Jika di dalam pertemanan itu ada doa yang diselipkan untuk temannya dan temannya tidak mengetahuinya, maka doa tersebut akan mustajab dan malaikat akan mengaminkan doa kita. Karena sesuai dengan sabda Rasulullah SAW:

“Sungguh, doa seorang Muslim kepada saudaranya pada saat saudaranya itu tidak mengetahuinya adalah mustajab. Di sisi orang yang akan mendoakan saudaranya itu ada malaikat yang bertugas mengaminkan doanya. Tatkala dia mendoakan saudaranya dengan kebaikan, malaikat itu akan berkata, ‘Aamiin. Engkau akan mendapatkan semisal dengan saudaramu tadi’.” (HR Muslim).

2. Tidak berkhalwat

Berkhalwat artinya berdua-duaan. Jika berteman dengan lawan jenis, janganlah berkumpul hanya berdua saja. Setidaknya ada 1 mahram wanita yang menemani agar tidak timbul fitnah di antara keduanya Serta menghindarkan diri dari perbuatan dosa dan maksiat.

"Janganlah sekali-kali kamu berkhalwat (berduaan) dengan perempuan kecuali disertai mahramnya," (HR Bukhari dan Muslim).

3. Menutup aurat dan menjaga pandangan

Menutup aurat dan menjaga pandangan merupakan hal-hal yang wajib dilakukan oleh laki-laki maupun perempuan. Dalam beberapa hadits, dikatakan bahwa aurat laki-laki adalah dari atas pusar hingga bawah lututnya (ada juga yang mengatakan dari pusar hingga lutut), sedangkan aurat wanita adalah seluruh tubuh kecuali wajah dan kedua telapak tangan.

"Allah SWT menjanjikan surga bagi hamba-Nya yang menjaga pandangan, yaitu: ...yang matanya tidak mau melihat hal-hal yang diharamkan Allah," (HR Ath-Thabrani).

Allah SWT berfirman dalam surat An-Nur ayat 30:

 


Artinya: "Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.”

4. Bertanggung jawab terhadap satu sama lain

“Seorang mukmin terhadap orang mukmin lainnya adalah bagaikan bangunan, yang bagian-bagian saling menguatkan satu sama lain”. (HR. Bukhari).

5. Tidak bersolek berlebihan

 


Artinya: “Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan (bertingkah laku) seperti orang-orang jahiliah dahulu, dan laksanakanlah salat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, wahai ahlulbait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.” (Q.S. Al-Ahzab 33:33).

2.2 Etika Bergaul dengan Teman yang Lebih Muda

Orang yang lebih muda daripada kita dapat diartikan sebagai mereka yang usianya lebih muda daripada kita. Mereka bisa merupakan adik kelas, adik tingkat, adik kandung, anak, dan lainnya. Orang yang berusia lebih muda daripada kita, biasanya pemikirannya masih labil dan belum dewasa. Jika kita memiliki teman yang lebih muda, hendaklah kita juga membimbingnya ke jalan yang benar.

2.2.1 Adab Bergaul dengan Teman yang Lebih Muda

1. Menyayangi mereka

“Rasulullah SAW bersabda, Wahai Anas, hormati yang lebih tua dan sayangi yang lebih muda, maka kau akan menemaniku di surga”. (HR. Baihaqi).

2. Membimbing ke jalan yang benar

Sebagaimana telah saya sebut di atas, orang yang berusia lebih muda daripada kita, biasanya pemikirannya masih labil dan belum dewasa. Pemikiran mereka bisa berpengaruh ke perilaku mereka sehari-hari, bahkan dalam suatu waktu bisa di luar kendali. Untuk itu, diperlukan orang yang lebih tua untuk senantiasa membimbing mereka di jalan kebaikan. Orang-orang tersebut tidak harus selalu orang tua mereka, bisa saja kakak mereka, saudara orang tua mereka, bahkan teman mereka sendiri yang lebih tua.

3. Menjadi teladan yang baik

Orang yang lebih muda, cenderung mengikuti perilaku yang lebih tua, tidak peduli apakah itu perbuatan yang baik, ataupun buruk. Dalam pikiran mereka, semua perbuatan yang lebih tua adalah benar. Oleh karena itu, sebagai teman yang lebih tua, kita harus selalu memberi contoh dan menjadi teladan yang baik bagi mereka.

4. Tidak meminta penghormatan yang berlebihan

Rasulullah SAW pernah bersabda:

“Janganlah kalian memujiku sebagaimana orang-orang Nasrani memuji ‘Isa bin Maryam. Sesungguhnya aku adalah seorang hamba, maka katakanlah: hamba Allah dan Rasul-Nya.” (HR. Bukhari, Muslim dan At Tirmidzi).

5. Tidak merendahkan dan memfitnah mereka

“Dari Abu Hurairah ia berkata telah bersabda Rasulullah ‘Jauhkanlah diri kamu daripada sangka (jahat) itu sedusta-dusta omongan, (hati)’”. (HR.Muttafaq ‘Alaih).

 


Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka”. (QS.Al-Hujurat (49):11)

2.3 Etika Bergaul dengan Teman Sebaya dan yang Lebih Tua

Sebagai manusia, tentu kita akan hidup berdampingan dengan orang lain. Kita merupakan makhluk sosial yang membutuhkan teman yang dapat selalu membantu kita ketika kita membutuhkan pertolongan. Seiring berjalannya waktu, semakin banyak orang yang temui, baik itu di sekolah, lingkungan tempat tinggal, perguruan tinggi, tempat umum, dan lain sebagainya. Lambat laun, kita akan bergaul dengan mereka. Kebanyakan dari kita memiliki teman yang sebaya, karena biasanya memiliki pemikiran, tingkah laku, dan kebiasaan yang sama. 

2.3.1 Adab Bergaul dengan Teman Sebaya dan yang Lebih Tua

1. Cara teman yang baik

Pergaulan dengan teman dapat mempengaruhi perilaku dan kepribadian kita. Jika kita lihat fenomena saat ini, banyak anak yang semasa bayi hingga balita dirawat dan didik oleh orang tuanya dengan baik. Namun ketika ia memasuki dunia pendidikan, perilakunya yang semula baik menjadi kurang baik bahkan cenderung nakal karena terpengaruh oleh  rekan sebayanya. Oleh karena itu, sangat penting untuk memilih teman yang baik yang dapat menuntun kita di jalan kebenaran dan selalu berada di jalan Allah SWT.

2. Selalu berprasangka baik

Kita harus selalu berprasangka baik dengan siapa pun itu, termasuk dengan teman kita sendiri. Rasulullah SAW pernah bersabda:

 


Artinya : “Jauhilah dari kalian prasangka buruk, sebab prasangka buruk adalah sedusta-dustanya perkataan” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

3. Saling tolong-menolong dan menasihati

Dari Abu Hurairah RA berkata, telah bersabda Rasulullah SAW:

Artinya: ”Allah akan selalu menolong hambanya selama hamba itu mau menolong saudaranya... .” (HR. Muslim).

Allah SWT juga telah berfirman:

 


Artinya: “Saling tolong-menolonglah kamu di dalam kebajikan dan taqwa, dan janganlah saling tolong-menolong dalam dosa dan permusuhan.” (Qs. Al-Maidah : 2)

 


Artinya : “Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasihati supaya menaati kebenaran dan nasehat menasihati supaya menetapi kesabaran.” (QS. Al-Ashr : 3)

4. Tidak menghina, mendengki, dan menaruh dendam kepada teman selama lebih dari 3 hari

Rasulullah pernah bersabda:

“Orang Muslim itu saudara sesama Muslim. Dia tidak menzalimi dan tidak menghinanya, dan tidak meremehkannya. Takwa itu di sini, takwa itu di sini, nabi sambil menunjuk ke arah dada. Cukuplah seseorang jahat apabila orang itu meremehkan saudaranya sesama Muslim, setiap Muslim bagi Muslim lainnya haram darahnya (tidak boleh disakiti apalagi dibunuh), haram kehormatannya (tidak boleh dihina, direndahkan), dan haram hartanya (tidak boleh dirampas).” HR Muslim.

 


Artinya : ”Janganlah kalian saling mendengki, jangan saling menipu, jangan saling membenci dan jangan saling membelakangi!” (HR. Ahmad dan Muslim).

Dari Abū Ayyub radiallah‘anhu, bahwasanya Rasulullah ﷺ  berkata, “Tidak halal bagi seorang muslim untuk meng-hajr (memboikot) saudaranya lebih dari 3 malam (yaitu 3 hari). Mereka berdua bertemu namun yang satu berpaling dan yang lainnya juga berpaling. Dan yang terbaik di antara mereka berdua yaitu yang memulai dengan memberi salam.” 




BAB III

PENUTUP


3.1 Kesimpulan

Sebagai makhluk sosial, manusia tidak akan terlepas dari pergaulan dalam kehidupan sehari-hari. Pergaulan atau pertemanan tersebut biasanya terbentuk seiring berjalannya waktu. Mereka biasanya bergaul karena memiliki kesamaan, seperti kesamaan lingkungan tempat tinggal, tempat mengenyam pendidikan, tempat bekerja, dan masih banyak lagi. Mereka bisa bergaul dengan siapa saja, tidak mengenal suku, ras, agama, jenis kelamin, bahkan usia. 

Islam hadir untuk mengatur kehidupan manusia di dunia ini, dengan kitab suci Al-Qur’an sebagai pedoman hidup untuk seluruh umat manusia sejak awal peradaban manusia hingga akhir zaman. Allah adalah satu-satunya Tuhan yang disembah oleh umat manusia, dan Nabi Muhammad adalah salah satu utusan Allah untuk mengarahkan umat manusia ke jalan yang benar. Islam menyebar secara luas, baik itu dalam ilmu pengetahuannya hingga aturan-aturan yang telah diajarkan oleh Nabi Muhammad ke seluruh penjuru dunia.

Demikian juga dalam pergaulan, Islam telah mengatur segalanya agar hubungan pertemanan tersebut dapat berjalan dengan baik dan senantiasa berada di jalan Allah SWT. Semua itu juga diatur agar tercipta perdamaian di antara manusia dan tidak ada yang merasa dirugikan. Firman Allah SWT dan sabda Rasulullah SAW juga ada untuk mengatur pergaulan dalam Islam.

3.2 Saran

Penulis sangat berharap agar para pembaca dapat menerapkan hal-hal yang ada pada BAB II karena semua hal tersebut telah jelas diatur oleh Islam. Semoga kita semua selalu diberikan perlindungan oleh Allah SWT agar senantiasa terhindar dari perbuatan dosa dalam pergaulan. Aamiin.



DAFTAR PUSTAKA

Adji, Muhammad Anant. (2019). Memaknai Kehidupan yang Fana dengan Gaya Hidup Islami. Diakses pada 31 Mei 2023, dari http://mgt.unida.gontor.ac.id/memaknai-kehidupan-yang-fana-dengan-gaya-hidup-islami/

An-nur.ac.id. (2022). Etika bergaul dengan orang yang lebih muda. Diakses pada 31 Mei 2023, pada https://an-nur.ac.id/etika-bergaul-dengan-orang-yang-lebih-muda/

Detik.com. (2023). 5 Adab Bergaul dengan Lawan Jenis dalam Islam agar Tak Timbul Fitnah. Diakses pada 30 Mei 2023, pada https://www.detik.com/sulsel/berita/d-6622342/5-adab-bergaul-dengan-lawan-jenis-dalam-islam-agar-tak-timbul-fitnah

Hasanah, Ni'matul dkk. (2015). Akhlak Pergaulan dalam Islam. Diakses pada 30 Mei 2023, dari https://osf.io/7xw3k/download/?format=pdf.

Ilmi, Nurul. (2020). Makalah "Adab atau Akhlak Pergaulan dalam Islam". Diakses pada 30 Mei 2023, dari https://id.scribd.com/document/488214762/MAKALAH-ADAB-PERGAULAN-DALAM-ISLAM


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Resume Khutbah 10 Februari 2023